18 Tahun Transjakarta Beroperasi, Koridor Pertama yang Bersejarah
Semakin hari jumlah penduduk bertambah banyak, Jakarta sebagai ibu kota
negara semakin banyak dipadati penduduk dengan berbagai aktivitas di ruang
publik. Dimulai 18 tahun lalu, Transjakarta bisa jadi jawaban dari keluhan warga Ibukota
ter hdapkebutuhan transportasi umum yang ramah dan terjangkau.
Transjakarta sebagai sistem transportasi modern berupa Bus Rapid Transit (BRT) merupakan ide Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso yang mengadopsi sistem transportasi di
Bogota, Kolombia.Sejak
peresmian pertamanya pada 15 Januari 2004 hingga dua pekan selanjutnya,
pemberlakuan ujicoba koridor pertama dari blok M – Jakarta Kota dilakukan
secara gratis.
Koridor 1 Transjakarta yang Bersejarah
Jalan-jalan yang
dilalui koridor 1 sepanjang Jalan Sultan Hasanuddin, Jalan Trunojoyo, Jalan
Sisingamangaraja, Sudirman, MH Thamrin, Medan Merdeka Barat, dan Gajah
Mada/Hayam Wuruk.
Koridor ini terintegrasi dengan Stasiun Sudirman di Stasiun BRT Dukuh Atas dan Stasiun Jakarta Kota
di stasiun BRT Jakarta Kota yang melayani KA Commuter Jabodetabek. Lalu,
per tanggal 1 Februari 2004 tarif pertama yang dikenakan pada saat itu sebesar
Rp 2000 untuk setiap penumpang.
Berdasarkan laman transjakarta.co.id, TransJakarta memutuskan
berbentuk Badan Pengelola (BP) TransJakarta berdasarkan Keputusan Gubernur No.
110/2003 di mana TransJakarta dikelola secara non-struktural, menggunakan
transfer dana, anggaran yang fleksibel, pendapatan yang dapat disetor, bertanggung jawab
langsung ke Gubernur.
Jenis bus yang dioperasikan saat itu yaitu bus tunggal HINO RG dan
MERCEDES BENZ OH 1521 Intercooler berbahan bakar solar.
Selang dua tahun kemudian, Transjakarta mengoperasikan dua koridor baru yaitu Koridor 2
dengan rute Pulogadung – Harmoni, dan Koridor 3 dengan rute Kalideres –
Pasarbaru. Pada tahun-tahun selanjutnya hingga sekarang Transjakarta
memiliki 13 koridor sepanjang 204 km. Sedangkan besaran tarifnya yaitu Rp
3.500, masih sama
dengan tarif pada tahun 2012.
Awalnya, calon penumpang harus melakukan transaksi melalui Tap in barrier gate saat masuk ke dalam halte untuk membeli
tiket. Namun, sejak tahun 2013 melansir dari laman Transjakarta.id, sistem
tiket menggunakan kartu elektronik (e-ticketing) sebagai pengganti uang tunai beralih
menggunakan kartu prabayar yang diterbitkan oleh bank.
Bank yang menyediakan layanan tersebut yaitu Bank Rakyat Indonesia
(BRIZZI), Bank Central Asia (Flazz), Bank Mandiri (e-money, e-Toll Card, Indomaret Card, dan GazCard),
Bank DKI (JakCard), serta Bank Mega MegaCash.
Selama masa pandemi Covid-19 terhitung sejak September 2021, dikenakan
sanksi pelarangan jumlah penumpang sebesar 50 persen dari jumlah biasanya atau
sebanyak 20 orang untuk setiap kali angkut. Selain itu, penumpang bus Transjakarta yang hendak
melakukan perjalanan menggunakan jasa angkutan umum diminta menyediakan
aplikasi peduli melindungi dan mematuhi protokol kesehatan yang ketat.




0 komentar:
Posting Komentar